Mengapa Telur 1/2 Matang Lebih Menggoda Dibandingkan Telur Matang Biasa

Telur merupakan makanan yang dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia. Lagian, ada berapa orang di dunia sih yang belum pernah melihat telur sama sekali dalam hidupnya? (Mungkin ada sih. Mungkin). Telur juga sudah menjadi suatu misteri bagi manusia selama ribuan tahun, termanifestasi dalam bentuk pertanyaan “Mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur?” Akan tetapi, postingan pada kali ini tidak akan membahas jawaban mana yang datang lebih dulu dikarenakan ayam sama telur sama-sama enak kalau digoreng.

Telur yang paling banyak dikonsumsi oleh kebanyakan orang adalah telur ayam. Ini kata saya lho, gak ada datanya, cuma, ya, katanya aja. Iya saya tau gak bener, tapi apa yang kamu harapkan dari postingan yang membahas telur 1/2 matang di blog saya? Di Indonesia, telur ini dimasak dengan berbagai macam cara: direbus, diceplok, didadar, diomeletkan, diorak-arik, dibalado, dicampur dengan masakan lain, dan sebagainya. Akan tetapi, ada 1 cara memasak telur yang terlihat lebih superior dibandingkan dengan cara memasak telur yang lain. Cara memasak telur ini terlihat superior karena ia memang superior. Cara yang saya maksud ini adalah telur yang dimasak 1/2 matang.

Look at that smexy, juicy half cooked egg. Nyessss.

Menu telur 1/2 matang banyak sekali dijumpai di warung-warung kaki lima maupun restoran bintang lima (ehm gak tau sih sebenernya cuma karena hotel bintang lima berima dengan kaki lima jadi ditulis aja). Hal ini menandakan bahwa banyak orang yang suka. Kalau kamu tidak suka, mungkin sekarang adalah saatnya kamu mulai mempertanyakan apa tujuan hidup kamu (spoiler: untuk membuat telur 1/2 matang). Telur 1/2 matang ini mempunyai pesona yang luar biasa unik sehingga membuatnya berbeda dari saudara-saudara telurnya yang lain. Apa saja alasan yang membuat telur 1/2 matang lebih menggoda dibandingkan telur matang biasa?

1. Tidak mainstream
Kita sudah mengetahui bahwa takdir bahan mentah itu adalah untuk menjadi matang. Ketika kamu melihat sebuah telur, maka kamu seakan-akan seperti sudah melihat suratan takdir di telur tersebut bahwa sudah nasibnya dia menjadi matang. Tetapi tidak dengan telur setengah matang. Dia berani melawan norma-norma yang telah disematkan oleh masyarakat bahwa sudah seharusnya telur itu dimasak secara matang. Dia berani membuktikan bahwa dia berani menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti arus mainstream dari telur-telur lainnya. Dia menjadi…setengah matang.

Telor hipster

2. Tekstur yang unik
Ketika kamu membaca poin nomer 1 mungkin kamu sudah menyadari bahwa postingan blog ini ngaco dan kamu mulai mempertanyakan keputusan hidup kamu kenapa kamu ngeklik postingan blog ini. Tapi poin kedua ini setengah serius kok. Tekstur dari telur setengah matang sangat unik. Dia begitu lembut, fluffy, namun tetap ada sedikit bagian telur yang matang yang ketika digigit menjadi agak bouncy. Tekstur yang lembut fluffy fluffy tapi bouncy ini lah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi telur setengah matang. Umm, ini saya lagi mendeskripsikan tekstur telur 1/2 mateng kok. Bukan yang lain. Suer.

nyemmmmmm

3. Sangat tricky untuk dibuat
Agar tekstur yang unik seperti yang disebutkan pada poin nomor 2 dapat dihasilkan, seorang pemasak telur setengah matang sejati haruslah mengetahui kapan waktu yang pas untuk memasak telur setengah matang. Dimasak terlalu cepat, maka telur akan terlalu mentah dan masih terlalu cair untuk dimakan. Dimasak terlalu lama maka telur akan menjadi terlalu matang, dan kamu telah sukses membuat telur rebus biasa. Konon katanya untuk dapat mencapai keseimbangan ini seseorang haruslah memiliki jiwa yang suci dan tulus serta berlatih berpuluh-puluh tahun. Dan seperti kebanyakan kalimat yang diawali dengan “katanya“, pernyataan barusan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Harus pas masaknya.

4. Dia tidak mentah dan tidak matang; dia berada di tengah-tengah spektrum
Seperti keseimbangan alam semesta yang tergambar pada konsep yin dan yang, telur setengah matang juga berada di tengah-tengah keseimbangan. Dia tidak matang, dan dia tidak mentah. Dia selalu memposisikan dirinya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu condong kemanapun. Tidak suka menjudge telur manapun karena dia selalu berusaha melihat dari sisi yang lain. Maka dapat dikatakan bahwa telur 1/2 matang merupakan pergambaran sejati dari kesetimbangan alam semesta.

5. Kalau kamu sudah membaca postingan blog ini sampai di sini, maka harusnya kamu sudah menyadari bahwa penulis artikel ini udah kebanyakan makan telur 1/2 matang ampe bego dan kamu sudah membuang beberapa menit waktu kamu yang berharga untuk ngebaca ini.

.
.
.
Jadi intinya saya mau bilang kalo telur 1/2 matang itu enak. Udah gitu aja.

Iklan
Categories: Daily Blog | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: