Ketika Data Bisa Disandera

Dulu, sekitar 8 tahun yang lalu (dari saya menulis ini) saya tidak pernah bermimpi bahwa suatu saat nanti di masa depan, serangkaian sinyal yang terdiri dari 0 dan 1 dapat memegang peranan yang sangat penting. Kesannya, ah tinggal di klik kanan trus delete juga gampang ilang. Tapi begitulah kesan saya terhadap data digital; amat rapuh dan mudah hilang.

Masuk ke bulan Mei tahun 2016, pagi-pagi dikejutkan oleh telepon dari neng echiezo bahwa laptopnya tiba-tiba terkunci karena virus dan ada pesan bahwa semua filenya telah terenkripsi. Saya kala itu baru pertama kali tau bahwa virus tersebut adalah sebuah malware yang masuk ke dalam kategori ransomware, dan ketika baca deskripsi apa yang dapat dilakukan oleh malware tersebut, terlintas satu kata di pikiran saya: jahat. Iya, malware ini jahat bener. Istilahnya, file-file kamu dibongkar sehingga gak bisa dibaca lagi oleh komputer. Dari file office hingga foto-foto, hampir semuanya. Permanen. Jadi walaupun kamu sudah berhasil membersihkan “virus” ransomware dari komputer kamu, file-file kamu masih tetap terkunci. Permanen. Dan kuncinya ada di orang yang menyebarkan virus tersebut; sang penyandera. Makanya malware tersebut disebut ransom (uang tebusan) ware; biar dapet kuncinya, kamu harus bayar tebusan (yang dibayarnya pake bitcoin) ke si “penyandera”. Dan uang tebusannya mahal.

Kemudian satu tahun kemudian, di bulan Mei tahun 2017, dunia dikejutkan oleh serangan wabah ransomware terbesar hingga saat ini.

Buat saya, ini jahat bener sih. Kamu memanfaatkan rasa takut dan rasa kebutuhan korban akan file-filenya lalu memaksa mereka mengirimkan uang. Dan ketika udah dibayar, gak jaminan juga file kamu bakal balik. Ibarat di film-film penyanderaan lah, uang tebusan dibayar gak ada jaminan sanderanya dibiarkan hidup.

Dua kejadian tersebut membuat saya berpikir, data digital sudah menjadi benda yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sampai-sampai mereka dapat disandera dan ditukar dengan uang. Kita benar-benar semakin memasuki dunia digital. Tapi sayangnya, perkembangan dunia digital ini sepertinya terlalu cepat sehingga banyak hal yang mungkin belum terpikirkan atau terlewatkan oleh kita. Serangan masal ransomware di tahun ini mungkin bisa jadi menjadi semacam wake-up call; kita disuruh bangun dan melihat bahwa data kita dapat diancam dengan cara seperti itu. Jika data digital sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup, sepertinya sudah saatnya untuk meningkatkan edukasi akan teknologi digital ini kepada orang awam agar kita bisa lebih siap jika suatu saat nanti akan ada kasus seperti ini terjadi lagi.

Oh iya, udah 5 paragraf tapi isinya meracau aja ya, haha. Tips pencegahannya? Untuk kasus serangan ransomware yang kemarin, ada satu blog dari mas Budi Rahardjo yang sangat membantu sekali di sini. Kemudian, tips umumnya adalah selalu backup data secara berkala, baik offline maupun online. Pasang anti-ransomeware atau antivirus yang memiliki ransomeware (avira gak punya jadi saya install anti ransomware lagi), selalu update antivirus, dan selalu update sistem operasi ke versi terbaru. Saat blog ini diketik, wabah serangan ransomware udah sedikit mereda, tapi kita harus tetap selalu waspada.

Iklan
Categories: Computer Stuff, Daily Blog, Ilmu | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: